Surau
Surau
Dulu, bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat senda gurau sebelum
azan berkumandang. Banyak anak-anak yang sedang berlarian kesana kemari hanya
untuk menunggu azan magrib dikumandangkan. Waktu itu 15 tahun yang lalu, surau
disamping rumahku sangat ramai. Teman-teman dari berbagai desa berdatangan
untuk menimba ilmu. Wajah-wajah yang haus akan ilmu terpancar jelas dimata
mereka. Bagi mereka, jarak bukanlah masalah yang sangat besar. Memang, dulu
televisi, radio bahkan telepon genggam sangat jarang dimiliki. Kasarnya, masih
belum menjangkiti daerah terpencil di pelosok Indonesia. Semua masih alami,
kalau boleh aku mengatakannya. Sosialisasi yang dibangun antar teman sangat
akrab. Semua bermain bersama, tak ada anak yang menyendiri sembari memegang gadget
ditangannya.
Masa itu kini tak pernah kudapati lagi. Surau sangat sepi.
Anak-anak lebih suka menghabiskan waktunya dirumah sembari menonton program
televisi kesukaannya. Dan yang sangat memperihatinkan, orang tuanya seolah tak
peduli dengan kondisi seperti itu.
Kenapa hal ini bisa terjadi??, sifat anaknya kah?, atau orang tua yang
acuh tak acuh?. Dunia telah berubah menuju era digital dan semakin modern,
begitu pula perilaku manusia. Mereka seolah tak ingin ketinggalan dengan era
digital yang semakin masif digalakkan oleh berbagai kelangan. Anak-anak yang
dulunya lebih suka berdatangan ke surau-surau untuk mengaji al-quran, sekarang
lebih suka mengaji lewat gadjet yang katanya dapat memberikan informasi yang
lebih akurat. Anak-anak yang dulunya lebih suka bermain layang-layang,
kelereng, lompat tali di lapangan depan rumah, sekarang seolah enggan
menyentuhnya. Memang, era digital ini, boleh dibilang semakin memudahkan para
khalayak, khususnya para akademisi, namun acapkali melenakan sang pengguna jika
sudah bersosial media.
Namun, tak pernahkah kita sadari, bahwa gadget yang ditenteng
kemanapun juga ikut serta dalam mempengaruhi perilaku muda-mudi saat ini.
Memang, tv (baca televisis) lebih dulu mempengaruhi hal tersebut lewat
adegan-adegan sinetronnya yang tak sepatutnya ditampilkan, namun pengaruh
gadjet dirasa lebih signifikan. Bayangkan, jika anak kita yang pendidikan
akhlaknya masih belum matang, dapat mencari tahu seluk beluk dunia hanya dengan
sentuhan jari saja. Belum lagi, jikalau mereka melihat suatu hal yang tidak
mendidik, apakah ini bukan berarti kemunduran akhlak?. Dimana peran kita
sebagai orang tua?.
Masih terngiang jelas sebuah
berita, tentang penganiaayaan guru sekolah di Sampang. Seorang anak SMA tega
menganiaya gurunya lantaran ditegur untuk tidak membuat gaduh di kala pelajaran
dimulai, namun apa yang dilakukan siswa tersebut, dia tidak terima dengan cara
guru tersebut menegur dan secara tiba-tiba memukul leher sang guru bak adegan
film yang sering ia tonton. Apa yang terjadi disini?, Kemunduran akhlak. Hati
ini terasa diiris-iris sebuah pisau, memang tak mengeluarkan darah, tapi rasa
itu lebih sakit bila dibandingkan dengan irisan pisau yang tajam sekalipun.
Miris. Sosok guru saat ini bukanlah seorang yang disakralkan, berbeda jauh
dengan zaman kakek-nenek kita. Mengapa demikian?. Karena tata krama itu tidak
diajarkan oleh orang tua sebagai sekolah pertama seorang anak, melainkan
diajarkan oleh gadjet sebagai teman hidup mereka. Sadis bukan!!.
Comments
Post a Comment